note: 'saya' diganti dengan 'gue'.
------------------------------------------------------------
Belakangan ini hidup rasanya gak berwarna. Monoton gitu. Ulangan? Gak kaget. Remidial? Apalagi, sudah makanan sehari-hari. Nah inilah jeleknya sifat alamiah, gak mau gitu lebih peka dan produktif. Sukanya remidi mulu. Kadang gue mikir kalo gue itu kebanyakan ngeluh sama Tuhan. And that's it! Gue kalah sebelum angkat senjata.
Banyak temen2 gue di Twitter maupun Facebook yang update status tentang betapa sulitnya kehidupan di SMA. Gue juga sering kaya begitu, suka kesel gara2 tugas sekolah dan nilai ulangan yang apa-adanya, lalu akhirnya update status di Twitter. Yeah, ini masa adaptasi. Pilihannya cuma dua, kita menyesuaikan diri sebaik mungkin atau kita yang akan terbebani dengan sagala hal baru itu.
Beberapa hari yang lalu gue merenung gitu, mikir dan nanya sama diri sendiri hal-hal apa aja yang udah gue kerjain. Tentang pahala dan dosa apa aja yang udah ditulis oleh mailaikat tanpa kita sadari. Gue mikir kalo ternyata selama ini gue belum bisa ngasih apa-apa sama ortu. Mau nunjukkin nilai? Toh itu juga hasil dari ortu nyekolahin + ngebiayain gue les disana sini. Tanpa ortu, gue tidak lebih baik daripada virus. Pikiran itu tadi terus bergaung hebat di kepala sampe akhirnya gue putusin untuk sedikit berbenah diri. Kali aja semua hal jelek tadi berasal dari gue sendiri yang gak mau berubah sikap, ya nggak?
Sesuatu yang besar dimulai dari hal kecil, bukan?
Lalu gue mutusin sebisa mungkin tidak mengeluh atas apa yang telah terjadi. Sebisa mungkin nahan emosi. Sebisa mungkin tidak ngomel tentang ini itu. Gue nyoba untuk lebih rajin belajar, supaya nilai UAS ini agak lebih baik daripada nilai UTS yang kacau balau. Nyoba untuk mikir dulu sebelum ngomong atau bahkan lebih milih diam. Diam itu emas men.
Selama Tuhan masih berbaik hati dengan gue, gue akan mencoba meningkatkan kualitas ibadah. Setidaknya gue juga mau punya sedikit ruang buat gue tinggali di surga.
Oke, balik ke awal. Kadang temen-temen gue suka pada nyalahin orang, guru, scanner atau apapun untuk dijadikan luapan kekesalan. Gue juga sih, tapi gak pernah secara serius. Ternyata emang kitanya aja yang malas untuk bertindak. Terlalu senang dengan hal kecil lain. Ternyata gue juga salah satu diantaranya. Untuk setiap hal yang udah kamu kerjakan, pasti ada hasilnya. Dan rasanya sangat senang ketika hasilnya bagus, apalagi itu hasil kerjamu sendiri. Puas-senang-bangga-haru menjadi satu, tak tergambarkan.
Herannya, ada kakak kelas yang masih aja memberi contoh gak bener. Pas hari apa gitu masih pekan UAS, si kakak kelas ini kegep lagi smsan. Menurut gue sih aslinya biasa aja, tapi ya rasa mangkel ada juga. Disaat temenmu yang lain belajar semaleman suntuk bela-belain tidur sebentar, dia malah dengan gampangnya nyari jawaban lewat sms. Walaupun semisalnya kakak kelas tadi ngaku kalo dia gak pinter, gak sempat belajar tadi malem, atau whatever lah toh jalan keluarnya bukan dengan nyontek kan?
Jujur aja, gue masih rada sangsi tentang contek-mencontek. Mengingat hal negatif dikerjakan secara besar-besaran dimasa lalu. Sigh.
Ya intinya, kalo kamu udah capek bosen sama remidial, ayo kita sama2 berbenah diri :] gue juga akan rubah sikap B-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar